Menghabiskan masa kecil di lingkungan NU tak membuat Sugeng Prihastomo gentar untuk mendekati Ningrum, putri ketua Pimpinan Anak Cabang Muhammadiyah di desanya. Tekadnya bulat, kadang nekat.
“Cinta tak mengenal aliran” Begitu kata Sugeng jika ditanya kenapa tetap nekat meski kedua orang tuanya melarang.
Menghabiskan masa kecil di Madrasah Ibtidaiyah yang kemudian diteruskan di Madrasah Tsanawiyah di lingkungan NU, mengenalkan Sugeng pada sosok yang membuat keyakinannya mendekati Ningrum semakin tinggi. Gus Dur, sosok yang membuat Sugeng yakin. Meskipun tidak mengenal secara langsung, dan hanya mendengar dari guru mata pelajaran Ke-Nu-an atau yang biasa disebut Nahdiyah, Sugeng begitu mengagumi sosok cucu pendiri NU itu.
Sugeng hapal Mars NU, dan masih ingat betul arti logo NU yang berupa bola dunia dikelilingi tali tampar dengan 9 bintangnya itu. Tapi pengetahuannya tentang NU tersebut justru mendapat angin dorongan balik begitu mengenal Gus Dur. Baginya Gus Dur bukanlah sekedar ketua PBNU yang mengajar dan menyebarkan ajaran Ahlisunnah Waljama’ah NU. Gus Dur baginya lebih seperti cerminan apa itu pluralisme, yang penerapannya sungguh sangat kompleks. Gus Dur boleh dikatakan 'memiliki' NU, tapi NU tidak memiliki Gus Dur, karena Gus Dur milik semuanya bukan hanya kaum Nahdliyin saja.
Kekaguman akan sosok Gus Dur juga yang akhirnya membuat Sugeng rela menyisihkan sebagian uang sakunya untuk membeli biografi Gus Dur yang ditulis bule Greg Barton. Semakin yakin saja Sugeng tentang pemahamannya terhadap Gus Dur selama ini, pluralisme.
*************************
Sambil menyalakan TV, Sugeng menghirup teh anget buatan Ningrum sore itu. Terasa hambar, tak menyangka, dan terkejut melihat running text di salah satu stasiun berita. Gus Dur Wafat. Singkat, tapi tak sesingkat kesedihan Sugeng yang kali ini tak tahan untuk membiarkan pipinya basah oleh air mata.
Selamat jalan Gus....
Thursday, December 31, 2009
Wednesday, December 16, 2009
Antara Amoeba dan Pintu Ajaib Doraemon
Pelajaran kedua dari Pak Hendro, sopir bus Sumber Alam, yang bisa diambil hikmahnya adalah soal bagaimana mendahului kendaraan lain di depan. Hidup ini soal pilihan, begitu juga mengendarai bus. Terserah mo mendahului kendaraan di depannya atau lebih memilih mlaku alon-alon asal kelakon. Ketika jalanan sepi dan relatif bebas hambatan, kita bisa memilih ngeblong dan kalo bisa mendahului kendaraan di depannya. Ini soal pilihan, dan inilah pilihan hidup. Bagaiaman kehidupan berjalan layaknya jalannya bus Sumber Kencono.
Perjalanan hidup, begitu saya menyebutnya. Perlu pilihan yang diambil dari keputusan-keputusan seksama ketika memutuskan. Ketika sebuah pilihan diambil, secara otomatis ada konsekuensi-konsekuensi yang mengikutinya di belakang. Ketika Pak Hendro memilih berjalan pelan dengan Sumber Kencononya, konsekuensi yang ada adalah soal lamanya waktu tempuh. Sekali lagi ini soal pilihan, pilihan yang tidak diputuskan dengan asal pilih tapi dengan menahan kantuk di tengah malam mengharap obrolan dari Sang Gusti lewat mimpi-mimpi di malam hari.
Sayang, saya ga bawa kamus bahasa arab sewaktu Gusti mengajak ngobrol malam itu, lewat mimpi tentunya. Hanya mengangguk dan tersenyum, pejah gesang kulo nderek Gusti. Sendiko dawuh. Pilihan bersejarah dalam narasi kehidupan seorang anak manusia yang bermimpi menjadi orang berguna. Sadar, inilah waktu mewujudkan mimpi itu, membangunkan mimpi tanpa tidur itu. Inilah pilihan yang diambil. Sebuah pilihan yang mengawali sebuah konsekuensi yang harus ditempuh pula.
**************
Pilihan saya adalah mengambil hape, lalu mengabarkan kabar kurang mengenakkan lewat ketikan jari jemari SMS; “Maaf, kereta itu terlalu sombong untuk mau menungguku barang sejenak”
Perjalanan hidup, begitu saya menyebutnya. Perlu pilihan yang diambil dari keputusan-keputusan seksama ketika memutuskan. Ketika sebuah pilihan diambil, secara otomatis ada konsekuensi-konsekuensi yang mengikutinya di belakang. Ketika Pak Hendro memilih berjalan pelan dengan Sumber Kencononya, konsekuensi yang ada adalah soal lamanya waktu tempuh. Sekali lagi ini soal pilihan, pilihan yang tidak diputuskan dengan asal pilih tapi dengan menahan kantuk di tengah malam mengharap obrolan dari Sang Gusti lewat mimpi-mimpi di malam hari.
Sayang, saya ga bawa kamus bahasa arab sewaktu Gusti mengajak ngobrol malam itu, lewat mimpi tentunya. Hanya mengangguk dan tersenyum, pejah gesang kulo nderek Gusti. Sendiko dawuh. Pilihan bersejarah dalam narasi kehidupan seorang anak manusia yang bermimpi menjadi orang berguna. Sadar, inilah waktu mewujudkan mimpi itu, membangunkan mimpi tanpa tidur itu. Inilah pilihan yang diambil. Sebuah pilihan yang mengawali sebuah konsekuensi yang harus ditempuh pula.
**************
Pilihan saya adalah mengambil hape, lalu mengabarkan kabar kurang mengenakkan lewat ketikan jari jemari SMS; “Maaf, kereta itu terlalu sombong untuk mau menungguku barang sejenak”
Wednesday, December 2, 2009
Enam Barang yang Sering Tertinggal di Prameks
Inilah enam kandidat barang-barang yang sering tertinggal di Prameks, siapa saja mereka? Langsung ke TKP Gan….
1.Helm yang dibawa mahasiswi cewek
Model kaya gini jelas, biasanya rame pas akhir ama awal pekan. Bisa kuliah di Jogja rumah di Solo ataupun sebaliknya, trus mudik gitu naik Prameks. Bawaannya lumayan banyak, mungkin isinya cucian ya?hehehe… Naik Prameks kadang juga dianter ama pacarnya, sambil nunggu kereta datang ngobral-ngobrol sambil bawa helm. Pas di dalem kereta, pacaran masih tetep berlanjut lewat hape. Ada yang telpon, sms-an, ataupun chatting. Nah, pacaran model gini bikin lupa waktu, tau-tau udah nyampe. Pas nyampe itu, langsung cabut aja sambil masih pacaran via mobile, kelupaan tuh helm! Inget-inget pas dijemput ama pacar keduanya di stasiun tujuan….Lho helmku mana? Hahhahahahha!!
2.Helm yang dibawa buruh migran Jogja-Solo yang mo sekalian main
Ini gak aneh lagi, soalnya buruh migran Jogja-Solo hampir setiap hari naik Prameks dan ga pernah bawa helm. Nah, biasanya tu pas akhir pekan abis pulang kantor pada janjian main kemana gitu, nonton wayang apa dangdutan di THR Purawisata ato mejeng di bonbin (tak lagi) Gembira Loka. Karena ga biasa bawa helm, nyampe stasiun tujuan langsung aja turun dan meninggalkan rejeki helm bagi yang lain…Ck…Ck..Ck..baik banget ya?
3.Helm yang dibawa turis lokal cewek
Kejadian kaya gini biasa terjadi ama geng-geng cewek SMA yang terpisah karena ga lulus di universitas yang sama. Menimpa mahasiswi-mahasiswi semester awal, ceritanya dulu pas SMA bareng tapi pas masuk universitas pisah-pisah gitu. Akhir pekan pengen reunian di Jogja atau Solo naik Prameks, trus bawa helm ditaruh dibagasi atas. Saking semangat dan senangnya bakal ketemu sohib kentel, nyampe stasiun ga inget lagi ama helm-nya…biasanya diperparah dengan telpon-telponan sambil jalan keluar stasiun…”Cin, kamu dimana?? Aku uda nyampe Stasiun ni, km udah berangkat njemput aku kan??”
4.Helm dengan pemilik penakut
Takut ilang maksudnya, jadi timbang takut ilang di parkiran stasiun mending dibawa aja. Biasanya helmnya dibungkus khusus pake tas helm, merk-merk yang agak mahal juga. Kaya INK, Arai, Caberg. Kalo helm gratisan pabrikan sampe takut ilang itu mesti ada jimat didalamnya…. Pemilik helm kaya gini biasanya selalu was-was, dikit-dikit nengok ke atas meriksa helm-nya masih ada ato ngga. Awalnya masih rajin meriksa helm-nya, tapi lama-lama bosen juga kok masih ada terus helm-nya (hehhee....) jadi mpe stasiun tujuan malah udah lupa sama sekali ama itu helm. Singkat cerita melayanglah ratusan ribu....
5.Helm yang emang sengaja ditinggal
Emang ada? Ada donk, tapi ini rahasia ya... jangan bilang siapa-siapa, Oke? Ini sebenarnya model transaksi baru, transaksi apa aja pokoknya. Jadi misal penjualnya naruh barang pesenan di dalem helm yang ditaruh di bagasi atas itu, nah ntar pembelinya tinggal ngambil aja pura-puranya itu helm sendiri. Tentunya sebelum itu sudah saling kontak-kontakan gimana teknisnya, helm yang mo diambil kaya apa. Model baru ni Gan, gratis helm...
6.Kenapa semuanya helm?
Sebelum artikel ini diketik, penulis telah mengamati selama kurang lebih 6 bulan barang-barang apa aja yang sering tertinggal di Prameks. Dan dari penelitian observasi itu didapat hasil kalo helm menjadi primadona barang yang sering tertinggal, hasil penelitian itu termasuk juga bahwa melakukan penelitian di Prameks ternyata bisa jadi lupa kalo bawa helm.......
1.Helm yang dibawa mahasiswi cewek
Model kaya gini jelas, biasanya rame pas akhir ama awal pekan. Bisa kuliah di Jogja rumah di Solo ataupun sebaliknya, trus mudik gitu naik Prameks. Bawaannya lumayan banyak, mungkin isinya cucian ya?hehehe… Naik Prameks kadang juga dianter ama pacarnya, sambil nunggu kereta datang ngobral-ngobrol sambil bawa helm. Pas di dalem kereta, pacaran masih tetep berlanjut lewat hape. Ada yang telpon, sms-an, ataupun chatting. Nah, pacaran model gini bikin lupa waktu, tau-tau udah nyampe. Pas nyampe itu, langsung cabut aja sambil masih pacaran via mobile, kelupaan tuh helm! Inget-inget pas dijemput ama pacar keduanya di stasiun tujuan….Lho helmku mana? Hahhahahahha!!
2.Helm yang dibawa buruh migran Jogja-Solo yang mo sekalian main
Ini gak aneh lagi, soalnya buruh migran Jogja-Solo hampir setiap hari naik Prameks dan ga pernah bawa helm. Nah, biasanya tu pas akhir pekan abis pulang kantor pada janjian main kemana gitu, nonton wayang apa dangdutan di THR Purawisata ato mejeng di bonbin (tak lagi) Gembira Loka. Karena ga biasa bawa helm, nyampe stasiun tujuan langsung aja turun dan meninggalkan rejeki helm bagi yang lain…Ck…Ck..Ck..baik banget ya?
3.Helm yang dibawa turis lokal cewek
Kejadian kaya gini biasa terjadi ama geng-geng cewek SMA yang terpisah karena ga lulus di universitas yang sama. Menimpa mahasiswi-mahasiswi semester awal, ceritanya dulu pas SMA bareng tapi pas masuk universitas pisah-pisah gitu. Akhir pekan pengen reunian di Jogja atau Solo naik Prameks, trus bawa helm ditaruh dibagasi atas. Saking semangat dan senangnya bakal ketemu sohib kentel, nyampe stasiun ga inget lagi ama helm-nya…biasanya diperparah dengan telpon-telponan sambil jalan keluar stasiun…”Cin, kamu dimana?? Aku uda nyampe Stasiun ni, km udah berangkat njemput aku kan??”
4.Helm dengan pemilik penakut
Takut ilang maksudnya, jadi timbang takut ilang di parkiran stasiun mending dibawa aja. Biasanya helmnya dibungkus khusus pake tas helm, merk-merk yang agak mahal juga. Kaya INK, Arai, Caberg. Kalo helm gratisan pabrikan sampe takut ilang itu mesti ada jimat didalamnya…. Pemilik helm kaya gini biasanya selalu was-was, dikit-dikit nengok ke atas meriksa helm-nya masih ada ato ngga. Awalnya masih rajin meriksa helm-nya, tapi lama-lama bosen juga kok masih ada terus helm-nya (hehhee....) jadi mpe stasiun tujuan malah udah lupa sama sekali ama itu helm. Singkat cerita melayanglah ratusan ribu....
5.Helm yang emang sengaja ditinggal
Emang ada? Ada donk, tapi ini rahasia ya... jangan bilang siapa-siapa, Oke? Ini sebenarnya model transaksi baru, transaksi apa aja pokoknya. Jadi misal penjualnya naruh barang pesenan di dalem helm yang ditaruh di bagasi atas itu, nah ntar pembelinya tinggal ngambil aja pura-puranya itu helm sendiri. Tentunya sebelum itu sudah saling kontak-kontakan gimana teknisnya, helm yang mo diambil kaya apa. Model baru ni Gan, gratis helm...
6.Kenapa semuanya helm?
Sebelum artikel ini diketik, penulis telah mengamati selama kurang lebih 6 bulan barang-barang apa aja yang sering tertinggal di Prameks. Dan dari penelitian observasi itu didapat hasil kalo helm menjadi primadona barang yang sering tertinggal, hasil penelitian itu termasuk juga bahwa melakukan penelitian di Prameks ternyata bisa jadi lupa kalo bawa helm.......
Wednesday, November 25, 2009
Korban Qurban
Trotoar beralih fungsi menjadi etalase kambing dengan semerbak wangi tai kambing. Kambing qurban itu mengorbankan kepentingan pejalan kaki macam saya, sumpah njiji’i banget baunya. Wajah kota semakin ramai dengan kebisingan embeeeeeeeeek di segenap penjuru, bersaing dengan klakson dan teriakan kondektur Kopata Jalur 7.
Bentar lagi Qurban ya, perut mungkin tak lagi akrab dengan nasi telor atau Indomie selama semingguan, penjual sate gule juga mungkin beralih jualan voucher pulsa aja. Yang laris penjual odol, arang, ama tusuk gigi.
Qurban memberi makna bagi setiap insan penikmat rasa. Lucu rasanya ngeliat hampir semua orang makan daging, kaya lagi jatuh cinta tai kucing berasa coklat. Di hari raya Qurban sayur kangkung juga berasa prengus.
Selamat hari raya Qurban, jangan lupa gosok gigi setelah makan.
Semoga kita semua mampu menyembelih sifat kebinatangan dari dalam diri kita masing-masing.
Bentar lagi Qurban ya, perut mungkin tak lagi akrab dengan nasi telor atau Indomie selama semingguan, penjual sate gule juga mungkin beralih jualan voucher pulsa aja. Yang laris penjual odol, arang, ama tusuk gigi.
Qurban memberi makna bagi setiap insan penikmat rasa. Lucu rasanya ngeliat hampir semua orang makan daging, kaya lagi jatuh cinta tai kucing berasa coklat. Di hari raya Qurban sayur kangkung juga berasa prengus.
Selamat hari raya Qurban, jangan lupa gosok gigi setelah makan.
Semoga kita semua mampu menyembelih sifat kebinatangan dari dalam diri kita masing-masing.
Tuesday, November 24, 2009
Ini Blekberi, Bukan Hape
Sekarang banyak orang megang kondom hape warna-warni. Di kereta, mall, pemakaman umum, bahkan di Toliet banyak yang nenteng itu hape berkondom warna-warni aneka rupa, padahal dulu orang paling males kalo hape ditenteng kaya gitu, biasanya dimasukin kantong saku celana. Warnanya yang rame, ada biru, ungu, kuning, merah, pink, bikin silau mata.
Gejala nenteng-nenteng hape kaya gitu dimulai dari demam Blekberi dengan tombol QWERTY-nya. Ukuran yang lebar jadi susah kalo dimasukin ke saku celana yang bikin banyak orang nenteng hape, selain gaya tentunya….Blekberi dab! Larang regane….
Tapi itu dulu, sekarang banyak Blekberi abal-abal buatan China yang model dan bentuknya mirip banget Blekberi asli. Situasinya kaya rame-ramenya motor China dulu. Semuanya ngandelin keypad QWERTY, tinggal dibungkus kondom warna-warni orang ga tau itu Blekberi apa Nokia seri E, apa hape China. Keren kan? Harga murah penampilan mewah!
Kembali ke Blekberi, orang bangga banget sekarang kalo punya Blekberi. Ga mo nyebut hape lagi….”Eh Blekberiku dimana ya?” nyebutnya gitu, coba bandingin ama pemilik (katakanlah Nokia), mesti bilangnya “Eh Hapeku dimana ya?”. Nah tu kan, Blekberi itu bukan hape….ada juga istilah lain yang orang suka nyingkat Blekberi jadi BeBe, kalo dulu bilangnya “Ntar gue SMS-in alamatnya….” Sekarang ganti istilah jadi “Ntar gue BB-in alamatnya…..” Apik yo, ada kaya diferensiasi buat pemilik Blekberi, lebih prestis, gengsi dan kliatan keren.
Mungkin itu yang diliat ama produsen Samsung, ga ngeluarin Hape tapi ngeluarin CORBY ke pasaran. Hape jadi ada “namanya”, beli Corby, bukan beli Hape!
Ngomong-ngomong, Corby gue dimana ya?
Gejala nenteng-nenteng hape kaya gitu dimulai dari demam Blekberi dengan tombol QWERTY-nya. Ukuran yang lebar jadi susah kalo dimasukin ke saku celana yang bikin banyak orang nenteng hape, selain gaya tentunya….Blekberi dab! Larang regane….
Tapi itu dulu, sekarang banyak Blekberi abal-abal buatan China yang model dan bentuknya mirip banget Blekberi asli. Situasinya kaya rame-ramenya motor China dulu. Semuanya ngandelin keypad QWERTY, tinggal dibungkus kondom warna-warni orang ga tau itu Blekberi apa Nokia seri E, apa hape China. Keren kan? Harga murah penampilan mewah!
Kembali ke Blekberi, orang bangga banget sekarang kalo punya Blekberi. Ga mo nyebut hape lagi….”Eh Blekberiku dimana ya?” nyebutnya gitu, coba bandingin ama pemilik (katakanlah Nokia), mesti bilangnya “Eh Hapeku dimana ya?”. Nah tu kan, Blekberi itu bukan hape….ada juga istilah lain yang orang suka nyingkat Blekberi jadi BeBe, kalo dulu bilangnya “Ntar gue SMS-in alamatnya….” Sekarang ganti istilah jadi “Ntar gue BB-in alamatnya…..” Apik yo, ada kaya diferensiasi buat pemilik Blekberi, lebih prestis, gengsi dan kliatan keren.
Mungkin itu yang diliat ama produsen Samsung, ga ngeluarin Hape tapi ngeluarin CORBY ke pasaran. Hape jadi ada “namanya”, beli Corby, bukan beli Hape!
Ngomong-ngomong, Corby gue dimana ya?
Monday, November 23, 2009
Penjual Indomie
Hati nurani saya berkata, ini seperti Indomie yang dibagi-bagikan gratis buat korban gempa yg bisa berakibat sistemik, kenapa dijual di warung Burjo.
Rasanya agak aneh, bau nyinyir dan penuh kebohongan. Tak lagi berasa bawang goreng dan kriuk yang kriukkriuknya katanya lebih banyak 3x.
Jangan-jangan ini Indomie kadaluarsa? Bisa sakit perut rakyat Indonesia kalo kaya gini...Ah, gelengkan kepala dan katakan TIDAK pada Indomie kadaluarsa!
Lidah pun tak lagi berasa, padahal perut melilit penuh harapan. Tapi apa daya sepiring Indomie terasa begitu lama dibuatnya! Gila...ini gila, sepiring Indomie akhirnya tersaji setelah rasa lapar ini hilang seminggu lamanya menunggu pesenan datang!
Heran saya sama penjual Indomie ini, pembelaan datang dengan begitu cerdas! Penuh kalimat retoris yang isinya hampir sama kaya buku PMP jaman saya SD dulu.
Kata teman sebelah bangku; ”ini perumpaan orang yang mo nendang di depan gawang tapi gak langsung nendang, gocek kanan kiri dulu!”
Entahlah, gak ngerti apa maksud temen saya itu. Lha wong saya pesen Indomie sepiring yang lama banget datangnya kok dihubung-hubungkan ama main bola?
”Sambil nyanyi kayanya.....” batin ikut-ikutan mikir
Ya, penjual Indomie itu kan terkenal suka nyanyi, udah bikin album malah. Denger-denger mo bikin album ke-4 lagi. Jangan-jangan dia tadi bikin Indomie pesenanku sambil nyanyi?? Wah Jian....pantesan lama banget!!!
Rasanya agak aneh, bau nyinyir dan penuh kebohongan. Tak lagi berasa bawang goreng dan kriuk yang kriukkriuknya katanya lebih banyak 3x.
Jangan-jangan ini Indomie kadaluarsa? Bisa sakit perut rakyat Indonesia kalo kaya gini...Ah, gelengkan kepala dan katakan TIDAK pada Indomie kadaluarsa!
Lidah pun tak lagi berasa, padahal perut melilit penuh harapan. Tapi apa daya sepiring Indomie terasa begitu lama dibuatnya! Gila...ini gila, sepiring Indomie akhirnya tersaji setelah rasa lapar ini hilang seminggu lamanya menunggu pesenan datang!
Heran saya sama penjual Indomie ini, pembelaan datang dengan begitu cerdas! Penuh kalimat retoris yang isinya hampir sama kaya buku PMP jaman saya SD dulu.
Kata teman sebelah bangku; ”ini perumpaan orang yang mo nendang di depan gawang tapi gak langsung nendang, gocek kanan kiri dulu!”
Entahlah, gak ngerti apa maksud temen saya itu. Lha wong saya pesen Indomie sepiring yang lama banget datangnya kok dihubung-hubungkan ama main bola?
”Sambil nyanyi kayanya.....” batin ikut-ikutan mikir
Ya, penjual Indomie itu kan terkenal suka nyanyi, udah bikin album malah. Denger-denger mo bikin album ke-4 lagi. Jangan-jangan dia tadi bikin Indomie pesenanku sambil nyanyi?? Wah Jian....pantesan lama banget!!!
Thursday, November 19, 2009
Emak Pengen Naik Haji di 2012
Sebenere ga cuma Emak, saya juga kepengen. Kalo bisa lebih cepat dari itu dan bisa sesering mungkin, tapi saya cuma buruh migran yang buat beli sandal jepit aja nunggu sandal lama jebol. Tapi kuasa Gusti siapa tahu?
Sambil nunggu tahun 2012, mending nikmati hidup dengan nonton 2012. Film yang penuh konspirasi tinggi demi tujuan bisnis yang ujung-ujungnya duit. Seandainya strategi marketing film 2012 ini dimasukin ke entry Citra Pariwara pasti bakalan menang. 2012 bercerita soal ”bencana kecil” yang dikemas sedemikian rupa lewat konspirasi tadi sehingga kesannya di tahun 2012 itu bakalan kiamat. Tapi kalo udah nonton tu film, malah jadi kepikiran kalo ini plagiat dari ceritanya Nabi Nuh....ah semoga gada yang minta royalti. Ya, ini kaya cerita Nabi Nuh yang dikemas dengan konteks masa kini, dengan sudut pandang orang Holiwud yang selalu membuat Paman Sam jadi pahlawan. Secara efek emang top markotop, bingung dan ga kepikiran gimana bikinnya. Bisa ngasih gambaran sewaktu kecil pas disuruh ngapalin Q.S Al-Zalzalah yang bercerita soal kiamat. Sungguh, saya jadi bisa mbayangin ntar kalo kiamat beneran kaya apa. Angkat jempol buat yang bikin efek.
Itu cuma penggambaran ”bencana kecil” yang dibuat oleh manusia. Gimana dahsyatnya kiamat yang dibikin oleh Gusti, sang pencipta umat manusia? Pasti lebih keren lagi ya.... Lewat film 2012 harusnya guru-guru di sekolahan bisa memberi gambaran kiamat, lumayan kan jadi ga perlu ngomong panjang lebar kalo gunung bergulung-gulung, air laut tumpah dsb.
Film Nabi Nuh masa kini ini bisa dibilang sempurna untuk penggambarannya, walo kadang mustahil juga gimana sebuah mobil bisa lolos dari gempa super dahsyat begitu. Hal lain yang bikin ga sempurna justru dilakukan oleh penerjemahnya, yang orang Indonesia, ahahhahahaha....Indonesia bikin karya apik jadi ga apik lagi. Disuatu adegan, ada terjemahan yang nulis ”PREDISEN” ... salah ketik tu, harusnya PRESIDEN.....tapi tak apalah, soalnya seorang ilmuwan muda lebih berharga daripada 20 politisi tua...ga nyambung kan? Emang...tinggal disambung-sambungin aja kaya film 2012, dari kalender suku Maya bisa disambung-sambungin ama kiamat terus dibikin film yang gila secara marketing dan efek kaya gini....
Lalu kapan kiamat itu? Entahlah, mungkin kalo Kupat Tahu tak lagi nikmat...
Sambil nunggu tahun 2012, mending nikmati hidup dengan nonton 2012. Film yang penuh konspirasi tinggi demi tujuan bisnis yang ujung-ujungnya duit. Seandainya strategi marketing film 2012 ini dimasukin ke entry Citra Pariwara pasti bakalan menang. 2012 bercerita soal ”bencana kecil” yang dikemas sedemikian rupa lewat konspirasi tadi sehingga kesannya di tahun 2012 itu bakalan kiamat. Tapi kalo udah nonton tu film, malah jadi kepikiran kalo ini plagiat dari ceritanya Nabi Nuh....ah semoga gada yang minta royalti. Ya, ini kaya cerita Nabi Nuh yang dikemas dengan konteks masa kini, dengan sudut pandang orang Holiwud yang selalu membuat Paman Sam jadi pahlawan. Secara efek emang top markotop, bingung dan ga kepikiran gimana bikinnya. Bisa ngasih gambaran sewaktu kecil pas disuruh ngapalin Q.S Al-Zalzalah yang bercerita soal kiamat. Sungguh, saya jadi bisa mbayangin ntar kalo kiamat beneran kaya apa. Angkat jempol buat yang bikin efek.
Itu cuma penggambaran ”bencana kecil” yang dibuat oleh manusia. Gimana dahsyatnya kiamat yang dibikin oleh Gusti, sang pencipta umat manusia? Pasti lebih keren lagi ya.... Lewat film 2012 harusnya guru-guru di sekolahan bisa memberi gambaran kiamat, lumayan kan jadi ga perlu ngomong panjang lebar kalo gunung bergulung-gulung, air laut tumpah dsb.
Film Nabi Nuh masa kini ini bisa dibilang sempurna untuk penggambarannya, walo kadang mustahil juga gimana sebuah mobil bisa lolos dari gempa super dahsyat begitu. Hal lain yang bikin ga sempurna justru dilakukan oleh penerjemahnya, yang orang Indonesia, ahahhahahaha....Indonesia bikin karya apik jadi ga apik lagi. Disuatu adegan, ada terjemahan yang nulis ”PREDISEN” ... salah ketik tu, harusnya PRESIDEN.....tapi tak apalah, soalnya seorang ilmuwan muda lebih berharga daripada 20 politisi tua...ga nyambung kan? Emang...tinggal disambung-sambungin aja kaya film 2012, dari kalender suku Maya bisa disambung-sambungin ama kiamat terus dibikin film yang gila secara marketing dan efek kaya gini....
Lalu kapan kiamat itu? Entahlah, mungkin kalo Kupat Tahu tak lagi nikmat...
Life Isn’t Only For Bre(ad)
Sugeng hampir aja keselek mendengar pertanyaan Simbah Kakungnya;
”Kopiraiter? Apa itu?”
Bingung gimana harus njawabnya. Terlihat sederhana, tapi menjadi rumit ketika harus menjelaskan jenis pekerjaan yang ga tertulis di kitab suci buat Simbah yang hampir seluruh hidupnya didedikasikan buat kemajuan agama. Pendiri dan pembawa aliran Nahdlatul ‘Ulama di Kabupaten Banjarnegara itu tentu ga ngerti apa itu Kopiraiter, di kitab kuning gundul, tafsir Jalalain Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Mishbah, ataupun Ibnu Katsir jelas ga dijelaskan.
”Itu bikin tulisan buat iklan Mbah”
Simbah hanya manggut-manggut entah mengerti entah tidak. Biarlah, yang penting Simbah ga nanya-nanya pekerjaannya lagi. Tapi rupanya Simbah begitu penasarannya ama Kopiraiter, nanya lagi;
”Kopiraiter bisa jadi PNS gak?”
Hahhahahahhaa....Sugeng ketawa ngakak sampe lupa adab kesopanan di depan orang tua kaya Simbahnya. Upss, Sugeng segara tersadar melihat mimik heran Simbahnya.
”Enggak Mbah, gada Kopiraiter yang PNS...”
”Ya...kalo bisa kamu jadi PNS Geng, biar enak, nyaman, tuanya terjamin”
”Nggih Mbah” jawab Sugeng berharap segera mengakhiri obrolan.
Sugeng pamitan ama Simbahnya, dia mau magang 3 bulan di sebuah biro iklan di Jakarta, deket kantor KPK katanya, belakang Setia Budi. Meminta doa restu ama Simbah sudah jadi kebiasaan Sugeng, biasanya sehari sebelum berangkat pamitan sekedar ngobrol ngalor ngidul sambil mijitin Simbah. Ngobrol ama Simbah membuat Sugeng membumi, sedikit ngerti gimana prihatinnya hidup yang cuma nunut ngumbe.
Dan besok malam Sugeng berangkat ke Jakarta, mencoba mengejar cita-citanya jadi pekerja iklan. ”Hidup untuk iklan dan menghidupi periklanan” Kata Sugeng suatu waktu. Entah darimana Sugeng bisa begitu senengnya ama iklan, padahal dulunya cuma anak kampung yang sebel kalo lagi liat Ksatria Baja Hitam terganggu ama iklan. Tapi sekarang Sugeng beda, jadi demen banget ama iklan, iklan, dan iklan. Seakan-akan acara tv itu cuma selingan buat nunggu datangnya iklan.
*******************
Sugeng terbangun mendengar hapenya berdering, hari Sabtu gini biasanya Sugeng tidur mpe siang. Istirahat total setelah Senin mpe Jumat kerja magang yang pulangnya mesti sampe malam, kadang nginep malah. Tapi kerja lembur gitu justru kebahagiaan buat Sugeng, walo dia juga tau kalo kebahagiaan dan kesedihan itu amat tipis. Simbah yang ngajari, itu yang bikin Sugeng sekarang menangis di sela kesunyian Jakarta.
"Balik sekarang, Simbah Kakung meninggal......" terucap dalam ujung telepon.
”Kopiraiter? Apa itu?”
Bingung gimana harus njawabnya. Terlihat sederhana, tapi menjadi rumit ketika harus menjelaskan jenis pekerjaan yang ga tertulis di kitab suci buat Simbah yang hampir seluruh hidupnya didedikasikan buat kemajuan agama. Pendiri dan pembawa aliran Nahdlatul ‘Ulama di Kabupaten Banjarnegara itu tentu ga ngerti apa itu Kopiraiter, di kitab kuning gundul, tafsir Jalalain Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Mishbah, ataupun Ibnu Katsir jelas ga dijelaskan.
”Itu bikin tulisan buat iklan Mbah”
Simbah hanya manggut-manggut entah mengerti entah tidak. Biarlah, yang penting Simbah ga nanya-nanya pekerjaannya lagi. Tapi rupanya Simbah begitu penasarannya ama Kopiraiter, nanya lagi;
”Kopiraiter bisa jadi PNS gak?”
Hahhahahahhaa....Sugeng ketawa ngakak sampe lupa adab kesopanan di depan orang tua kaya Simbahnya. Upss, Sugeng segara tersadar melihat mimik heran Simbahnya.
”Enggak Mbah, gada Kopiraiter yang PNS...”
”Ya...kalo bisa kamu jadi PNS Geng, biar enak, nyaman, tuanya terjamin”
”Nggih Mbah” jawab Sugeng berharap segera mengakhiri obrolan.
Sugeng pamitan ama Simbahnya, dia mau magang 3 bulan di sebuah biro iklan di Jakarta, deket kantor KPK katanya, belakang Setia Budi. Meminta doa restu ama Simbah sudah jadi kebiasaan Sugeng, biasanya sehari sebelum berangkat pamitan sekedar ngobrol ngalor ngidul sambil mijitin Simbah. Ngobrol ama Simbah membuat Sugeng membumi, sedikit ngerti gimana prihatinnya hidup yang cuma nunut ngumbe.
Dan besok malam Sugeng berangkat ke Jakarta, mencoba mengejar cita-citanya jadi pekerja iklan. ”Hidup untuk iklan dan menghidupi periklanan” Kata Sugeng suatu waktu. Entah darimana Sugeng bisa begitu senengnya ama iklan, padahal dulunya cuma anak kampung yang sebel kalo lagi liat Ksatria Baja Hitam terganggu ama iklan. Tapi sekarang Sugeng beda, jadi demen banget ama iklan, iklan, dan iklan. Seakan-akan acara tv itu cuma selingan buat nunggu datangnya iklan.
*******************
Sugeng terbangun mendengar hapenya berdering, hari Sabtu gini biasanya Sugeng tidur mpe siang. Istirahat total setelah Senin mpe Jumat kerja magang yang pulangnya mesti sampe malam, kadang nginep malah. Tapi kerja lembur gitu justru kebahagiaan buat Sugeng, walo dia juga tau kalo kebahagiaan dan kesedihan itu amat tipis. Simbah yang ngajari, itu yang bikin Sugeng sekarang menangis di sela kesunyian Jakarta.
"Balik sekarang, Simbah Kakung meninggal......" terucap dalam ujung telepon.
Wednesday, November 18, 2009
Jogja Hujan Sore Ini
Karena Jogja hujan sore ini, bukan kemarin atau lusa
Karena Jogja hujan sore ini, menyadarkanku bertapa silaunya Mentari yang membuatku sedikit gamang; mungkinkah kusapa Mentari?
Karena Jogja hujan sore ini membuatku mundur selangkah untuk kemudian mundur dua langkah lalu balik kanan. Meninggalkan harapan yang bermakna
Ya, Jogja hujan sore ini, meyakinkanku betapa tingginya Mentari itu, tak mungkin kusapa. Biarlah menjadi embun yang menyejukkan tanpa dimiliki
Karena Jogja hujan sore ini
bersama Cinta Sebening Embun; Ebiet G Ade
14.55 WIB
Karena Jogja hujan sore ini, menyadarkanku bertapa silaunya Mentari yang membuatku sedikit gamang; mungkinkah kusapa Mentari?
Karena Jogja hujan sore ini membuatku mundur selangkah untuk kemudian mundur dua langkah lalu balik kanan. Meninggalkan harapan yang bermakna
Ya, Jogja hujan sore ini, meyakinkanku betapa tingginya Mentari itu, tak mungkin kusapa. Biarlah menjadi embun yang menyejukkan tanpa dimiliki
Karena Jogja hujan sore ini
bersama Cinta Sebening Embun; Ebiet G Ade
14.55 WIB
Sebenarnya
Sebenarnya saya pengen ngasih kursiku buat gadis yang berdiri di depanku, tapi entah kenapa rasa malu mengalahkan kebaikan
Sebenarnya saya malu harus duduk nyaman sambil baca Tempo sementara gadis itu berdiri di depanku persis, tapi entah mengapa ego membacaku mengalahkan rasa kepatutan
Sebenarnya saya kurang memikirkan patut ato ngga patut, ketika banyak cowok lain yang juga duduk diam tanpa memberikan kursinya untuk gadis itu
Sebenarnya saya masih kepikiran gadis itu, sampe sekarang. Kenapa saya ga berani menawarkan kursi itu buatnya? Takut kalo gadis itu malah nolak duduk? Entahlah, yang jelas saya malu, enggan, dan takut menawarkan kursi itu. Semoga niat baik tetap mendapat pahala, dan semoga esok kita bertemu lagi kawan!
Prameks
18 November 2009
Sebenarnya saya malu harus duduk nyaman sambil baca Tempo sementara gadis itu berdiri di depanku persis, tapi entah mengapa ego membacaku mengalahkan rasa kepatutan
Sebenarnya saya kurang memikirkan patut ato ngga patut, ketika banyak cowok lain yang juga duduk diam tanpa memberikan kursinya untuk gadis itu
Sebenarnya saya masih kepikiran gadis itu, sampe sekarang. Kenapa saya ga berani menawarkan kursi itu buatnya? Takut kalo gadis itu malah nolak duduk? Entahlah, yang jelas saya malu, enggan, dan takut menawarkan kursi itu. Semoga niat baik tetap mendapat pahala, dan semoga esok kita bertemu lagi kawan!
Prameks
18 November 2009
Ketika Tegangan Listrik Turun
Sumpah serapah caci maki bercampur dengan penghuni kebun binatang yang hampir bangkrut plus berderet-deret tanda seru diakhir kalimat mewarnai kubikel ketika mak jegagik listrik mati.
How iki? Kerjaan lum dSave je…apadaya daya litrik PLN turun dan bahkan mati. Matinya listrik mematikan kreativitas anak bangsa, membuat sambungan internet down lagi, dan penyesalan tiada akhir ketika hasil karya masterpiece belum disimpan. PLN mungkin bisa diplesetkan jadi Perusahaan Lilin Negara. Ah...ga kreatif, masa daridulu itu-itu aja plesetannya, cari yang lainnya dong! PLN itu.... Pancen Lebay Nyatane...nek iki bener-bener lebay. PLN itu...apa ya? Pala Lu Nyungsep?? Hahahahha....Gada ide ni.
Kalo listrik udah tewas, yang bisa dilakuin cuma main kentongan pura-pura jadi tukang mie ayam, ato kalo ga ngasah otak main catur. Tapi kalo catur, entah kenapa penonton selalu merasa lebih pinter daripada yang main. Yang lain aja deh, ada monopoli yang lagi booming di ruang kreatif dan mengalahkan game aneh pokemon!!!
Listrik mati bikin hasrat terkubur dalam lapisan tanah paling bawah, susah keluar lagi. Seperti matinya kelinci ditangan sang penjagal yang sama sekali tak meninggalkan lenguhan kesakitan. Menulis pun tak lagi bisa, padahal menulis bisa jadi terapi kesehatan yang sungguh menyehatkan. Marah disalurkan lewat nulis, sedih nulis, lagi sebel nulis. Beneran, nulis bisa buat terapi. Ibarat kata, marahku adalah menulis!!
Listrik mati bikin ga update, jadul, dan ketinggalan informasi (bedanya ama update apa?) Lha piye maning, jadi ga bisa update status fesbuk padahal penggemar udah nunggu pengen komentarin. Listrik mati bikin ga tau sekarang Anggodo lagi ngapain, padahal udah follow tewitternya. Ahh...kacau deh pokoknya, kalau sudah gitu mending berlalu sambil makan tahu (ini dapat dari temen, cuma lupa dimana...hahahha) Kebetulan hari ini penjual Kupat Tahu lewat lagi setelah beberapa minggu ga nongol2 batang gerobaknya!! Hahhaha...Kupat Tahu sang penolong datang tanpa lolongan panjang di malam hari.
Listrik mati juga bikin waktu berjalan lambat selambat Prameks lawas. Ngomong-ngomong soal Prameks, sudah lama saya ga naik. Gimana kabarnya tu gadis berkepang kuda....entahlah, yang jelas sekarang listrik mati dan saya matikutu dibuatnya.
Mari Sholat aja, Ashar sudah mendekat sementara Maghrib tetap pada tempatnya.....
How iki? Kerjaan lum dSave je…apadaya daya litrik PLN turun dan bahkan mati. Matinya listrik mematikan kreativitas anak bangsa, membuat sambungan internet down lagi, dan penyesalan tiada akhir ketika hasil karya masterpiece belum disimpan. PLN mungkin bisa diplesetkan jadi Perusahaan Lilin Negara. Ah...ga kreatif, masa daridulu itu-itu aja plesetannya, cari yang lainnya dong! PLN itu.... Pancen Lebay Nyatane...nek iki bener-bener lebay. PLN itu...apa ya? Pala Lu Nyungsep?? Hahahahha....Gada ide ni.
Kalo listrik udah tewas, yang bisa dilakuin cuma main kentongan pura-pura jadi tukang mie ayam, ato kalo ga ngasah otak main catur. Tapi kalo catur, entah kenapa penonton selalu merasa lebih pinter daripada yang main. Yang lain aja deh, ada monopoli yang lagi booming di ruang kreatif dan mengalahkan game aneh pokemon!!!
Listrik mati bikin hasrat terkubur dalam lapisan tanah paling bawah, susah keluar lagi. Seperti matinya kelinci ditangan sang penjagal yang sama sekali tak meninggalkan lenguhan kesakitan. Menulis pun tak lagi bisa, padahal menulis bisa jadi terapi kesehatan yang sungguh menyehatkan. Marah disalurkan lewat nulis, sedih nulis, lagi sebel nulis. Beneran, nulis bisa buat terapi. Ibarat kata, marahku adalah menulis!!
Listrik mati bikin ga update, jadul, dan ketinggalan informasi (bedanya ama update apa?) Lha piye maning, jadi ga bisa update status fesbuk padahal penggemar udah nunggu pengen komentarin. Listrik mati bikin ga tau sekarang Anggodo lagi ngapain, padahal udah follow tewitternya. Ahh...kacau deh pokoknya, kalau sudah gitu mending berlalu sambil makan tahu (ini dapat dari temen, cuma lupa dimana...hahahha) Kebetulan hari ini penjual Kupat Tahu lewat lagi setelah beberapa minggu ga nongol2 batang gerobaknya!! Hahhaha...Kupat Tahu sang penolong datang tanpa lolongan panjang di malam hari.
Listrik mati juga bikin waktu berjalan lambat selambat Prameks lawas. Ngomong-ngomong soal Prameks, sudah lama saya ga naik. Gimana kabarnya tu gadis berkepang kuda....entahlah, yang jelas sekarang listrik mati dan saya matikutu dibuatnya.
Mari Sholat aja, Ashar sudah mendekat sementara Maghrib tetap pada tempatnya.....
Terkenang Masa SMA
Bagi sebagian orang, jaman-jaman SMA dulu adalah jaman yang paling nyenengin. Jaman SMA adalah jaman dimana pertama kali jatuh cinta (udah telat ya? harusnya pas SMP), mbolos sekolah buat main dingdong, bikin surat ijin palsu nyuruh temen yg bisa nulis latin, tawuran ama anak STM, buku dilipat dimasukin kantong saku belakang, naik bis ga bayar, makan di kantin pura-pura lupa ga bayar, ngumpetin VCD porno dibalik poster pahlawan ato peta Indonesia, nambel celana sobek pake tensoplast, upacara ga bawa topi, dan…..masih banyak kelakuan bejat lainnya….hahahahaha…
Dulu SMA di SMANSABARA, kepanjangan dari SMA 1 (dibaca satu ya) Banjarnegara. Ga tau kenapa dinamain SMA 1, padahal gada SMA 2 ato 3 Banjarnegara. Biar kliatan keren kali ya, coba aja ke TKP Gan….http://sman1-bna.sch.id/
Masuk angkatan 2002, sebagai satu-satunya murid dari sebuah Madrasah Tsanawiyah di kecamatan kecil, saya anak kampung pokoknya. Gada teman sesekolahan yg bareng di Smansabara. Sedang teman-teman lain sedikit sombong memperlihatkan Badge sekolah SMP terbaik di kabupaten yang udah kaya pindah kelas aja ke Smansabara. Agak kuper juga, tapi biarlah toh sekarang sama-sama di Smansabara gitu dulu pikirnya.
Gada sesuatu yg istimewa dari sekolahanku ini kecuali WCnya, SMA yang katanya terbaik ini mempunyai WC terburuk!! Gada air, pesing, kotor, dan penuh coretan. Dari coretan salam-salaman ga jelas sampe sumpah serapah. Kalo udah kebelet pipis apa boker, udah deh…tahan sampe jam pulang trus ngelampiasin di rumah. Kalo pipis masih mending bisa asal buang terus disiram pake aqua, lha kalo pengen boker itu yang bikin gadis manis di kursi sebelah jadi ga keliatan manis lagi.
Ngomong-ngomong soal cewek, di kelasku dulu banyak yg jadi primadona sekolah.Hahahaha…dulu ada temenku yang jadi idola angkatan atas. Anaknya emang cantik, santun, udah gitu pake jilbab lagi. Namanya Shely, cari aja fesbuknya ada di friendlistku…hehehe…sory Shel! Ada lagi Viranika, nama yang keren untuk jaman itu , lengkapnya Viranika Dian Ervana. Ni anak sumpah dulu manis banget (sekarang juga masih), sempet naksir tapi ga berani ngomong….hahahaha….
Masuk kelas 3 udah mulai keliatan bejatnya, tapi tetep pinter kok. Buktinya yang dulu 2 tahun ga pernah dapat ranking di kelas 3 malah masuk 3 besar!!hehehe…selain tetep pinter dan tambah bejat, kelas 3 juga udah mulai kenal apa itu prioritas. Dulu, kalo jam pertama ada pelajaran yang (menurutku) lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, mending sengaja telat trus ga masuk dan nongkrong di perpus. Udah dingin pake AC, lebih bermanfaat lagi. Itu dulu sering banget kaya gitu.
Bejat-bejat gini pernah ikutan ROHIS (Rohaniah Islam) jadi sekretaris pula, hahahha….yg dibikin pertama kali dulu “iklan buka bersama”. Iklan paling keren selama sejarah ROHIS Smansabara…..sedikit lebay tapi tak mengapa. Bikinnya pake Microsoft Word, belum kenal Corel apalagi Potosop.
Satu hal yang patut dibanggain pas SMA dulu cuma kedekatanku ama sopir dan kondektur Bis. Beneran, dulu berangkat mesti butuh perjuangan. Ngejar bis yang kadang sok jual mahal gak mau ngangkut anak sekolahan (bayarnya setengah si…) Hampir 3 tahun bergelantungan dari satu bis ke bis yang lain jadi bkin kenal banyak dan banyak kenal kru bis. Jadwal bis aja mpe apal…jam segini yang lewat bis apa, abis itu bis apa..itu apal diluar catatan, udah kaya timer pinggir jalan. Pulang sekolah jam setengah dua bisa tau bis apa yang mo lewat. Kalo kebetulan kenalan yang lewat gratis ongkos bukan suatu hil yang mustahal….hehehhe…
Dulu SMA di SMANSABARA, kepanjangan dari SMA 1 (dibaca satu ya) Banjarnegara. Ga tau kenapa dinamain SMA 1, padahal gada SMA 2 ato 3 Banjarnegara. Biar kliatan keren kali ya, coba aja ke TKP Gan….http://sman1-bna.sch.id/
Masuk angkatan 2002, sebagai satu-satunya murid dari sebuah Madrasah Tsanawiyah di kecamatan kecil, saya anak kampung pokoknya. Gada teman sesekolahan yg bareng di Smansabara. Sedang teman-teman lain sedikit sombong memperlihatkan Badge sekolah SMP terbaik di kabupaten yang udah kaya pindah kelas aja ke Smansabara. Agak kuper juga, tapi biarlah toh sekarang sama-sama di Smansabara gitu dulu pikirnya.
Gada sesuatu yg istimewa dari sekolahanku ini kecuali WCnya, SMA yang katanya terbaik ini mempunyai WC terburuk!! Gada air, pesing, kotor, dan penuh coretan. Dari coretan salam-salaman ga jelas sampe sumpah serapah. Kalo udah kebelet pipis apa boker, udah deh…tahan sampe jam pulang trus ngelampiasin di rumah. Kalo pipis masih mending bisa asal buang terus disiram pake aqua, lha kalo pengen boker itu yang bikin gadis manis di kursi sebelah jadi ga keliatan manis lagi.
Ngomong-ngomong soal cewek, di kelasku dulu banyak yg jadi primadona sekolah.Hahahaha…dulu ada temenku yang jadi idola angkatan atas. Anaknya emang cantik, santun, udah gitu pake jilbab lagi. Namanya Shely, cari aja fesbuknya ada di friendlistku…hehehe…sory Shel! Ada lagi Viranika, nama yang keren untuk jaman itu , lengkapnya Viranika Dian Ervana. Ni anak sumpah dulu manis banget (sekarang juga masih), sempet naksir tapi ga berani ngomong….hahahaha….
Masuk kelas 3 udah mulai keliatan bejatnya, tapi tetep pinter kok. Buktinya yang dulu 2 tahun ga pernah dapat ranking di kelas 3 malah masuk 3 besar!!hehehe…selain tetep pinter dan tambah bejat, kelas 3 juga udah mulai kenal apa itu prioritas. Dulu, kalo jam pertama ada pelajaran yang (menurutku) lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, mending sengaja telat trus ga masuk dan nongkrong di perpus. Udah dingin pake AC, lebih bermanfaat lagi. Itu dulu sering banget kaya gitu.
Bejat-bejat gini pernah ikutan ROHIS (Rohaniah Islam) jadi sekretaris pula, hahahha….yg dibikin pertama kali dulu “iklan buka bersama”. Iklan paling keren selama sejarah ROHIS Smansabara…..sedikit lebay tapi tak mengapa. Bikinnya pake Microsoft Word, belum kenal Corel apalagi Potosop.
Satu hal yang patut dibanggain pas SMA dulu cuma kedekatanku ama sopir dan kondektur Bis. Beneran, dulu berangkat mesti butuh perjuangan. Ngejar bis yang kadang sok jual mahal gak mau ngangkut anak sekolahan (bayarnya setengah si…) Hampir 3 tahun bergelantungan dari satu bis ke bis yang lain jadi bkin kenal banyak dan banyak kenal kru bis. Jadwal bis aja mpe apal…jam segini yang lewat bis apa, abis itu bis apa..itu apal diluar catatan, udah kaya timer pinggir jalan. Pulang sekolah jam setengah dua bisa tau bis apa yang mo lewat. Kalo kebetulan kenalan yang lewat gratis ongkos bukan suatu hil yang mustahal….hehehhe…
Monday, November 16, 2009
Mimbar Jumat Pembuang Penat
Jumatan kali ini gak bikin mata sepet pengen tidur. Beneran, gada lagi manggut-manggut menahan kantuk yang bikin kotak infak tertahan lajunya. Jumat kali ini juga ga telat lagi, adzan terdengar langsung di dalam masjid, bukan dari kubikel ini. Jumat kali ini mampu membuang penat akibat kebodohanku sendiri yang sering kumat.
Sahabat baru menyadarkanku dari kehilangan ini. Kehilangan sosok yang membuka kebahagiaan dan memberi arti hidup. Dialah Gusti, temen dekat yang kini jauh dan saya lupakan. Entahlah, tanpa sadar kesibukan membuatku melupakan Gusti, tak pernah menyapa apalagi berkirim salam. Sampe tadi siang sebelum Jumatan sahabat itu menyadarkanku dan membuatku sejenak cengeng, lalu menitikkan air mata. Sungguh mata dan bathin saya menangis mendengar ucapannya; “Titip salam buat Gusti Alloh, saya kangen denganNya”
Sederhana, dan mungkin tanpa maksud mengatakan begitu. Tapi sungguh bikin ”mrebes mili” . Terngiang-ngiang sepanjang khotbah. Gusti menyapaku lewat orang lain. Saya lupa punya Gusti, pemilik kehidupan ini. Saya lupa ada Gusti, yang mengatur kehidupan ini. Saya kangen ama Gusti? Kapan? Entah kapan terakhir kali saya kangen dan merindukan Gusti......lalu, Gusti sendiri kangen ama saya gak ya? Kalo boleh ge-er, Gusti pasti kangen, soalnya Dia datang lewat teguran bertubi-tubi yang menyehatkan belakangan ini. Pertanda kedatangan Gusti lewat nyanyian yang menyembuhkan dari sakit berkepanjangan. Terima kasih Gusti, Engkau tidak lupa dengan teman kecilMu ini...
Sahabat baru menyadarkanku dari kehilangan ini. Kehilangan sosok yang membuka kebahagiaan dan memberi arti hidup. Dialah Gusti, temen dekat yang kini jauh dan saya lupakan. Entahlah, tanpa sadar kesibukan membuatku melupakan Gusti, tak pernah menyapa apalagi berkirim salam. Sampe tadi siang sebelum Jumatan sahabat itu menyadarkanku dan membuatku sejenak cengeng, lalu menitikkan air mata. Sungguh mata dan bathin saya menangis mendengar ucapannya; “Titip salam buat Gusti Alloh, saya kangen denganNya”
Sederhana, dan mungkin tanpa maksud mengatakan begitu. Tapi sungguh bikin ”mrebes mili” . Terngiang-ngiang sepanjang khotbah. Gusti menyapaku lewat orang lain. Saya lupa punya Gusti, pemilik kehidupan ini. Saya lupa ada Gusti, yang mengatur kehidupan ini. Saya kangen ama Gusti? Kapan? Entah kapan terakhir kali saya kangen dan merindukan Gusti......lalu, Gusti sendiri kangen ama saya gak ya? Kalo boleh ge-er, Gusti pasti kangen, soalnya Dia datang lewat teguran bertubi-tubi yang menyehatkan belakangan ini. Pertanda kedatangan Gusti lewat nyanyian yang menyembuhkan dari sakit berkepanjangan. Terima kasih Gusti, Engkau tidak lupa dengan teman kecilMu ini...
Tuesday, November 10, 2009
Mempersiapkan Kematian
Hidup sebenarnya cuma mampir minum, nunut ngumbe kata orang jawa. Dan setiap hari kita mempersiapkan kematian kita sendiri-sendiri dengan cara kita masing-masing. Bukan pertanyaan sederhana ketika mungkin temanmu berkata sudah siapkah kita menghadapi kematian? Dengan jalan apa kamu menjemput ajal itu?. Saya yakin, sedikit yang bisa menjawab dengan lancar layaknya ujian tengah semester kemaren itu.
Mari mempersiapkan kematian, sebelum ajal itu datang menjemput. Dan inilah kisah kematian sebuah Perusahaan Otobus yang menempuh trayek Jogja-Purwokerto.
Di tahun 90-an siapa yang tidak kenal Po. Raharja? Sebuah perusahaan otobus yang bermarkas di Kulon Progo ini adalah penguasa jalur patas AC Jogja-Purwokerto. Mungkin beberapa pembaca juga masing ingat dengan Bu Indah, satu-satunya sopir wanita di Po. Raharja yang berangkat jam 6 pagi dari Terminal Jogja (Bu Indah sekarang uda pensiun setelah suaminya yang juga sopir di Po. Raharja meninggal sewaktu menjalankan tugas). Nama RAHARJA adalah manifestasi sebuah kenyamanan, kecepatan, dan sedikit kesombongan di jalan raya. Menikmati mesin Hino yang sedang jaya-jayanya pada masa itu ditemani sebotol Coca-Cola plus semilir AC membuat penumpang sedikit mendongakan kepala ketika kebetulan bersebelahan dengan bus ekonomi di lampu bangjo. Hampir seluruh jam trayek Jogja-Purwokerto (dan sebaliknya) dikuasai oleh Po. Raharja, gada bus sejenis yang berani mengganggu.
Sekali lagi, semuanya sedang menyiapkan kematian dengan caranya masing-masing. Mempertahankan lebih sulit dari meraihnya, dan kesuksesan Po. Raharja membuat Juragannya terlena. Ya, bisnis kayu jati rupanya membuat Juragan Po. Raharja sejenak untuk kemudian terlena sepenuhnya. Juragan lebih memilih bisnis kayu daripada mempertahankan kesuksesan Po. Raharja. Ikutnya Juragan ke dalam bisnis kayu lebih banyak didukung oleh kenalnya sang Juragan dengan pejabat pemerintah. Tau sendiri kan, HPH susah kalo ga kenal petinggi... Perkenalannya dengan petinggi pemerintah rupanya ikut menyeret Juragan ke kancah politik. Pada waktu pemilihan Bupati Kab. Banjarnegara, Juragan Po. Raharja membantu Pak Djasri untuk maju menjadi bupati (akhirnya Pak Djasri berhasil menjadi bupati). Tapi inilah yang membuat Po. Raharja kehilangan prioritasnya, garasi di Kulon Progo sudah berganti kandang kayu, bus-bus tak lagi minum solar, beralih ke irex. Kondisi bus gak kerawat, kadang malah banyak kecoanya, televisi sekedar pajangan tanpa pernah mengeluarkan suara dan gambar (Cerita ini sebelas duabelas dengan Po. Dieng Indah di Wonosobo yang juga bangkrut setelah Juragannya ikut politik). Po. Raharja kehilangan positioningnya dan kehancurannya makin nyata ketika 13 trayek Jogja-Purwokerto dijual ke Po. Efisiensi.
Sisa-sisa kejayaan Po. Raharja saat ini sedikit terlihat sewaktu pemberangkatan Jama’ah Haji. Walo lebih dikarenakan kedekatan Juragan dengan petinggi pemerintah, Po. Raharja masih saja dipakai buat nganter para Jama’ah Haji ke Bandara Adi Sumarno Solo. Tercatat Kab. Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Bantul masih menggunakan Po. Raharja, entahlah yang jelas saya merasa kasihan dengan Jama’ah Haji, cobaan sudah datang di kampung halaman.....
Mari mempersiapkan kematian, sebelum ajal itu datang menjemput. Dan inilah kisah kematian sebuah Perusahaan Otobus yang menempuh trayek Jogja-Purwokerto.
Di tahun 90-an siapa yang tidak kenal Po. Raharja? Sebuah perusahaan otobus yang bermarkas di Kulon Progo ini adalah penguasa jalur patas AC Jogja-Purwokerto. Mungkin beberapa pembaca juga masing ingat dengan Bu Indah, satu-satunya sopir wanita di Po. Raharja yang berangkat jam 6 pagi dari Terminal Jogja (Bu Indah sekarang uda pensiun setelah suaminya yang juga sopir di Po. Raharja meninggal sewaktu menjalankan tugas). Nama RAHARJA adalah manifestasi sebuah kenyamanan, kecepatan, dan sedikit kesombongan di jalan raya. Menikmati mesin Hino yang sedang jaya-jayanya pada masa itu ditemani sebotol Coca-Cola plus semilir AC membuat penumpang sedikit mendongakan kepala ketika kebetulan bersebelahan dengan bus ekonomi di lampu bangjo. Hampir seluruh jam trayek Jogja-Purwokerto (dan sebaliknya) dikuasai oleh Po. Raharja, gada bus sejenis yang berani mengganggu.
Sekali lagi, semuanya sedang menyiapkan kematian dengan caranya masing-masing. Mempertahankan lebih sulit dari meraihnya, dan kesuksesan Po. Raharja membuat Juragannya terlena. Ya, bisnis kayu jati rupanya membuat Juragan Po. Raharja sejenak untuk kemudian terlena sepenuhnya. Juragan lebih memilih bisnis kayu daripada mempertahankan kesuksesan Po. Raharja. Ikutnya Juragan ke dalam bisnis kayu lebih banyak didukung oleh kenalnya sang Juragan dengan pejabat pemerintah. Tau sendiri kan, HPH susah kalo ga kenal petinggi... Perkenalannya dengan petinggi pemerintah rupanya ikut menyeret Juragan ke kancah politik. Pada waktu pemilihan Bupati Kab. Banjarnegara, Juragan Po. Raharja membantu Pak Djasri untuk maju menjadi bupati (akhirnya Pak Djasri berhasil menjadi bupati). Tapi inilah yang membuat Po. Raharja kehilangan prioritasnya, garasi di Kulon Progo sudah berganti kandang kayu, bus-bus tak lagi minum solar, beralih ke irex. Kondisi bus gak kerawat, kadang malah banyak kecoanya, televisi sekedar pajangan tanpa pernah mengeluarkan suara dan gambar (Cerita ini sebelas duabelas dengan Po. Dieng Indah di Wonosobo yang juga bangkrut setelah Juragannya ikut politik). Po. Raharja kehilangan positioningnya dan kehancurannya makin nyata ketika 13 trayek Jogja-Purwokerto dijual ke Po. Efisiensi.
Sisa-sisa kejayaan Po. Raharja saat ini sedikit terlihat sewaktu pemberangkatan Jama’ah Haji. Walo lebih dikarenakan kedekatan Juragan dengan petinggi pemerintah, Po. Raharja masih saja dipakai buat nganter para Jama’ah Haji ke Bandara Adi Sumarno Solo. Tercatat Kab. Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Bantul masih menggunakan Po. Raharja, entahlah yang jelas saya merasa kasihan dengan Jama’ah Haji, cobaan sudah datang di kampung halaman.....
Sunday, October 25, 2009
Saya, Pengendara Sepeda Motor
Saya pengendara sepeda motor, mendapat sertifikat Bintang 4 dari Paguyuban Sopir Sumber Kencono karena berhasil menempuh perjalanan Solo – Jogja dengan motor dalam waktu 53 menit 37 detik; yang berarti mengalahkan waktu tempuh Bus Sumber Kencono yang “hanya” 55 menit 11 detik.
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak membiarkan kepala saya polos begitu saja tanpa helm
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak membiarkan motor saya kesepian tanpa kedua spion di kanan dan kiri stang
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak pernah mendahului kendaraan di depan dari sisi kiri
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak pernah membiarkan lampu sein tidak menyala sewaktu menyalip
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak pernah membawa beban melebihi kapasitas
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak sombong dengan menyalakan lampu utama di malam hari
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak angkuh dengan memberi kesempatan pengendara lain untuk mendahului
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak pernah SMS-an, Telpontelponan, Fesbukan, apalagi posting blog sewaktu melaju diatas motor
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak pernah memegang grip gas dengan terbalik
Saya pengendara sepeda motor, dan tetap ngGanteng dengannya
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak membiarkan kepala saya polos begitu saja tanpa helm
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak membiarkan motor saya kesepian tanpa kedua spion di kanan dan kiri stang
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak pernah mendahului kendaraan di depan dari sisi kiri
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak pernah membiarkan lampu sein tidak menyala sewaktu menyalip
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak pernah membawa beban melebihi kapasitas
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak sombong dengan menyalakan lampu utama di malam hari
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak angkuh dengan memberi kesempatan pengendara lain untuk mendahului
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak pernah SMS-an, Telpontelponan, Fesbukan, apalagi posting blog sewaktu melaju diatas motor
Saya pengendara sepeda motor,
tapi tidak pernah memegang grip gas dengan terbalik
Saya pengendara sepeda motor, dan tetap ngGanteng dengannya
Subscribe to:
Posts (Atom)


